Minggu, 22 Desember 2013

Jumat, 20 Desember 2013

Rapat Anggota Tahunan  KKB on BALI TV


 
 
KKB Gelar Temu Usaha dan Bisnis
Pebisnis Properti Keluhkan Perizinan
Denpasar (Bisnis Bali) – Koperasi Krama Bali (KKB) secara rutin menggelar temu bisnis dan usaha. Kali ini KKB menggelar Temu Usaha dan Bisnis Properti yang menghadirkan pembicara Ketua DPD REI Bali, Dewa Putu Selawa, Dinas Tata Kota dan Perumahan Denpasar dan BTN, Jumat (20/12) di Warung 63 Denpasar. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari solusi berbagai permasalahan dalam bisnis properti. Di samping itu, peserta juga dapat melakukan sharing serta memanfaatkan peluang bisnis properti di Bali.
Menurut panitia penyelenggara, Dana Paramitha, kegiatan temu bisnis dan usaha sudah sering dilakukan. Kegiatan seperti itu guna merangsang masyarakat untuk mendapatkan peluang usaha. Di samping memperluas jejaring bisnis, juga melalui kegiatan temu bisnis dan usaha akan dapat mencari solusi jika memiliki kendala atau masalah.
Ketua DPD REI Bali, Dewa Selawa menerangkan, prospek dan peluang bisnis properti di Bali. Ia mengatakan, jika ingin berbisnis properti, jangan menggunakan pebisnis properti di Bali saja, akan lebih tepat bisnis properti Indonesia. Berbagai peluang bukan saja ada di Bali, melainkan di seluruh Indonesia.
“Jika ingin menjadi pebisnis properti jangan tanggung-tanggung, lakukan di seluruh Indonesia. Bali sudah banyak saingan, manfaatkan peluang yang ada di luar daerah juga,” katanya, sambil menyebutkan kendala selama ini di properti masih seputar perizinan.
Selain proses izin panjang dan terkadang tidak jelas, juga biaya terlalu tinggi. Misalnya, beberapa tahun untuk proses IMB hanya memerlukan biaya hanya Rp 500.000. Sekarang sudah hampir di atas Rp 4 juta.
Salah seorang pengelola Group Harmonis, Gede Darmawan juga mengeluhkan perizinan. Bahkan, pihaknya menerangkan jika tidak ada uang izin dapat dipastikan tidak akan keluar. “Maksud kami jika pemohon izin uangnya kurang, maka izin dapat dipastikan tidak akan pernah keluar. Maka itu, kami harapkan di perizinan ada transparansi, sehingga pemohon mudah dan murah, serta mendapat pelayanan yang memuaskan,” katanya.
Sementara itu, pembicara Dinas Tata Kota dan Perumahan yang diwakili Kabid Tata Ruang Kota, I Gede Cipta Sudewa A memberikan penjelasan terkait 11 wilayah strategis yang ada di Denpasar. Di antaranya, wilayah strategis Sanur, Sanglah, Serangan, Benoa, Art Centre, Ubung, Renon, Puspem Lumintang dan lainnya.
Di semua kawasan strategis sudah ada RTRW pemukiman. Hanya saja masih menunggu rincian lebih detailnya lagi. “Namun, memang ada saja yang melanggar. Seperti tanpa IMB, tanpa bercirikan arsitektur Bali, tata ruang tidak sesuai izin dan lainnya. Pelanggaran terjadi ada tiga hal, yakni karena masyarakat tidak tahu, lemahnya pengawasan dan masalah ekonomi,” katanya. *sta

Senin, 07 Oktober 2013



KKB dan Baline Chocolate Perkenalkan Membuat Cokelat Siap Konsumsi
Denpasar (Bisnis Bali) – Koperasi Krama Bali (KKB) siap memfasilitasi bisnis anggotanya dekat dengan masyarakat, baik memfasilitasi pasar, promosi, partnership dan lainnya. Seperti dilakukan Baline Chocolate yang sedang mengembangkan usaha aneka produk cokelat siap konsumsi.
KKB memfasilitasi dengan mengenalkan bagaimana membuat cokelat siap konsumsi kepada masyarakat, pelajar, mahasiswa, karyawan dan masyarakat umum.
"Untuk dekat dengan anggota, kami akan lakukan seperti ini terus menerus. Selain mampu menjalin KKB dengan anggota lebih dekat, bisnis anggota juga makin lancar. Salah satunya memfasilitasi anggota yang memiliki bisnis cokelat siap konsumsi.
Pemilik Baline Chocolate akan memperkenalkan cara membuat cokelat yang berkualitas, sehingga masyarakat tidak ragu lagi untuk menikmati kelezatan rasa cokelat produksi Baline Chocolate yang produksinya standar ekspor," ungkap Manajer KKB, Dana Pramitha, Sabtu (5/10) di sela-sela acara pengenalan membuat cokelat berkualitas di Toko Baline Chocolate Jalan Nusa Indah 148 Denpasar.
Kegiatan ini diikuti peserta dari siswa-siswi dan masyarakat umum.
Sementara itu, pemilik Baline Chocolate, Drs. I Ketut Widana yang didampingi stafnya, Lois sangat berharap menjadi anggota KKB mendapatkan manfaat, terutama untuk mengenalkan produksinya yakni cokelat di tengah-tengah masyarakat.

Cokelat yang diperkenalkan memiliki standar ekspor, karena membuat cokelat banyak orang bisa melakukannya, namun untuk mendapatkan cokelat yang berkualitas tidak semua pembuat cokelat dapat melakukannya.

"Kami di sini membuat cokelat sudah standar ekspor. Resepnya kami buat sendiri. Sampai dapat menghasilkan cokelat berkualitas dan siap dikonsumsi. Kira-kira bahan impor yang kami pakai sebanyak 15 persennya.

Salah satunya kacang Australia bernama maca damian, harga per kilogramnya sampai Rp 300 ribu,'' ungkap Widana sambil menyebut harga jual produksinya mulai dari Rp 4.000 sampai Rp 75.000. Semuanya sudah dikemas dengan kemasan menarik dan higienis. Pasarnya sudah merambah supermarket, pasar oleh-oleh dan lainnya.
Widana memberikan tips pembuatan atau proses membuat cokelat berkualitas siap dikonsumsi. Pilih buah cokelat jenis warna merah, jika sudah matang warnanya berubah kuning kemerahan. Kemudian biji buah cokelat dikeluarkan dan dipermentasi dengan cara merendam biji buah cokelat beberapa hari sampai pelapis luarnya hancur.

Permentasi ini memberikan rasa tambah biji cokelat. Biasanya akan terjadi penyusutan, bersihnya dapat 1/3 dari berat awal. Biji buah cokelat yang sudah dipermentasi kemudian dibersihkan dan dijemur sampai kering. Buah cokelat disangrai kemudian dihancurkan.

Pilahkan kulit biji luar dengan biji kokoa. Daging biji kokoa namanya nib, rasanya pahit. Nib ini kemudian digiling sampai halus, hasilnya bernama kokoa liqer. Lakukan proses alkalisasi dan dipres sehingga keluar minyak.

Hasilnya ini bernama kokoa bater dan ampasnya dihancurkan sampai halus menjadi fouder . Untuk membuat cokelat siap dikonsumsi dicampurkan gula, susu, vanila tambah fouder dan bater. Kemudian tambahkan minyak (VCO) atau minyak kelapa sawit.

Hasilnya menjadi chocolate dan dapat diolah menjadi bentuk yang diinginkan sesuai cetakan yang dimiliki. Cokelat siap dijual atau dikonsumsi. Semua orang bisa membuat chocolate tapi yang membedakan adalah bahan baku. Juga harus didukung alat memadai atau alat sederhana juga tidak jadi halangan. *sta