Rabu, 16 Januari 2013

KKB Ciptakan Sejarah Baru Perkoperasian
Denpasar (Bali Post) -
Koperasi
Krama Bali (KKB) telah menciptakan sejarah baru dalam dunia perkoperasian. Dalam usianya tujuh bulan pada akhir Desember 2005, koperasi ini telah memiliki anggota 7.189 orang. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali Ida Bagus Ketut Alit, Sabtu (25/3).
''Tidak ada koperasi yang mendapat sambutan luar biasa seperti ini. Di tengah keterpurukan citra koperasi, KKB mampu menumbukan kepercayaan masyarakat Bali untuk berkoperasi,'' tegasnya pada RAT Koperasi Serba Usaha Krama Bali di Gedung Pers Bali Ketut Nadha.
Ia juga menegaskan, prestasi lain KKB adalah dana yang berhasil dikumpulkan dalam usia belia ini mencapai Rp 5,1 milyar. Dana itu berasal dari simpanan sukarela anggota Rp 754,2 juta dan sisanya simpanan sukarela berjangka.
Selain sambutan positif dari masyarakat, KKB juga secara kontinu memberikan pelatihan sektor informal kepada anggota dan masyarakat. Ini menandakan KKB secara konsisten mewujudkan apa yang menjadi visi dan misi dari koperasi ini. ''Mudah-mudahan hal ini akan menjadi tonggak untuk kebangkitan ekonomi masyarakat Bali secara merata,'' kata IB Alit yang menyatakan juga menjadi anggota KKB.
Namun perlu diingat, katanya, KKB tidak bisa jalan sendiri. Perlu diimbangi dengan dukungan dan rasa memiliki dari krama Bali. Dengan demikian, ke depan KKB bisa berfungsi melayani krama Bali dalam mewujudkan ketahanan ekonomi masyarakat Bali.
 Dukungan ini bisa diwujudkan dengan menyimpan uang di KKB, memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berbelanja di KKB, serta memfungsikan KKB sebagai mitra untuk kegiatan ekonomi lainnya.
Ketua KKB Satria Naradha melaporkan tentang kegiatan usaha yang telah dilakukan. Usaha itu meliputi jasa simpan pinjam, kredit bagi hasil ternak, kredit pertanian, kredit biaya upacara, kredit jasa boga, kredit elektronik dan handphone.
Setelah dibacakan laporan keuangan oleh Sekretaris KKB Dewa Gede Joni Astabrata dan Bendahara Ni Putu Delly Komalasari, RAT dilanjutkan dengan tanya jawab.
Terkait keinginan sejumlah anggota dari Gianyar dan Buleleng menyangkut nasib perajin, Satria Naradha menjelaskan, KKB mulai merintis Pasar Oleh-Oleh Bali. Pasar yang beralamat di Jalan Raya Kuta 88 Tuban ini nantinya akan menjembatani pemasaran para perajin. Tidak saja menyangkut tempat pajang produk, KKB juga akan mempromosikan ke hotel-hotel dan melalui website. ''Dengan demikian diharapkan perajin langsung bertemu dengan pembeli lewat KKB, bukan dengan para calo seperti sekarang ini,'' jelasnya.
Pada RAT yang dihadiri anggota dan perwakilan anggota dari seluruh kabupaten/kota di Bali, mereka menyatakan menerima pertanggungjawaban pengurus dan mendukung program kerja KKB 2006. (019)
Kebangkrutan Mengintai Koperasi
Pertumbuhan jumlah koperasi di Bali setelah era reformasi memang cukup fantastis. Hanya pertumbuhan kuantitas yang tinggi tanpa dibarengi peningkatan kualitas, lambat laun akan mendatangkan petaka bagi gerakan koperasi. Kebangkrutan menghintai setiap saat. Lalu bagaimana caranya agar bisa lepas dari kebangkrutan?

Berikut laporan BisnisBali .

DATA Dinas Koperasi dan UKM Bali tahun 2008, jumlah koperasi sekitar 3.504 unit atau naik 8,42 persen dari tahun 2007 yang mencapai 3.232 unit. Jumlah koperasi yang tak aktif mencapai 256 buah.

Pengawas Koperasi Krama Bali (KKB) IB Teddy Prianthara, S.E., Ak., M.Si. dalam diskusi strategi bisnis jitu menghindari kebangkrutan koperasi di Gedung PWI Sabtu (4/7)) lalu mengungkapkan, virus yang dapat membangkrutkan koperasi secara internal meliputi problem manajemen, buruknya kontrol keuangan, kelemahan operasional, masalah sumber daya manusia, dan pembiayaan utang yang berlebihan.

Masalah manajemen seperti penundaan, keangkuhan, ketidakmampuan manajer, menolak perubahan, rendahnya kualitas karyawan dan penyimpangan internal kontrol.

Teddy yang tampil sebagai pembicara bersama Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali I Wayan Suasta, S.H., M.H. menambahkan, virus eksternal yang bisa membangkrutkan koperasi meliputi campur tangan pemerintah, krisis ekonomi, kekacauan politik, pesaing usaha yang lebih efisien, perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi dan bencana alam.

Agar bisa lepas dari virus internal dan eksternal, koperasi harus dikelola secara profesional, SDM dan teknologi koperasi harus terus ditingkatkan, efisiensi dan pelayanan juga harus ditingkatkan sehingga bisa mengantisipasi perkembangan pesaing. Pengawas internal juga harus berjalan secara optimal.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali I Wayan Suasta, S.H., M.H. menilai, koperasi sebagai lembaga yang tak mudah bangkrut. Hal itu telah dibuktikan di saat krisis ekonomi mengancam perekonomian nasional tahun 1997/1998. Gerakan koperasi bukannya bangkut namun makin berkembang baik dari segi jumlah maupun volume usaha. Ia yakin bila koperasi dijalankan sesuai dengan jati dirinya maka akan terus berkembang dengan baik.

Biasanya kemunduran koperasi lebih disebabkan terjadinya deviasi antara koperasi dan anggotanya. Ia mencontohkan usaha yang dijalankan koperasi tidak sejalan dengan kebutuhan anggota lambat laun akan mendatangkan kemunduran bagi koperasi.

Menurutnya, Pemprop Bali memiliki komitmen yang sangat tinggi dalam memberdayakan sektor koperasi dan usaha mikro kecil dan menengah. Belum lama ini Pemprop Bali menelorkan program kredit penguatan modal tanpa agunan untuk koperasi dan UMKM.

Melalui program ini koperasi dibantu permodalannya hingga Rp 100 juta dengan bunga 6 persen per tahun. Selain itu pemprop juga aktif menggelar pelatihan atau diklat untuk meningkatkan SDM koperasi. Sementara pemerintah pusat juga membantu koperasi melalui dana bergulir, KUR, dan yang lainnya. *bia
 
Situasi Sulit, KKB Tetap Eksis
Ajegkan Ekonomi Bali
Denpasar (Bali Post) -
Di tengah situasi yang serba sulit saat ini, Koperasi Krama Bali (KKB) tetap eksis melakukan perbaikan dalam upaya memberdayakan krama Bali di bidang ekonomi. Perjuangan KKB merupakan salah satu cermin perjuangan dalam penguatan jati diri dan pembangunan fondasi ekonomi mewujudkan ajeg Bali.
Demikian ditegaskan Ketua KKB Satria Naradha dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun 2007, yang digelar di Wantilan Gedung Pers Bali K Nadha, Sabtu (22/3) kemarin.
Kata dia, dibentuknya KKB tiga tahun lalu, didasarkan atas rasa jengah krama Bali untuk mampu berperan aktif dalam membangkitkan perekonomian Bali. Atas dasar itu pula, kerja keras dan komitmen menjadi modal dasar KKB untuk tetap berkomitmen mewujudkan cita-cita tersebut.
Hadir dalam acara tersebut, pengurus, pengawas, dan perwakilan anggota KKB dari seluruh kabupaten/kota di Bali, anggota luar biasa KKB dan sejumlah tokoh krama Bali.
Satria Naradha mengungkapkan masih ada beberapa kendala yang membayangi perkembangan KKB ke depannya. Salah satunya adalah masih banyaknya anggota KKB yang belum memanfaatkan pelayanan KKB secara maksimal. Misalnya store. Kalau saja 11 ribu anggota mau berbelanja di KKB, maka akan dapat dibangun satu kekuatan baru yang mampu bersanding dengan pengusaha yang sebelumnya telah menekuni bidang tersebut.
Tahun 2008 ini, kata dia, berbagai program guna membenahi segala kekurangan akan segera dijalankan. Salah satunya menggaet pengusaha-pengusaha besar untuk lebih memiliki kepedulian sosial terhadap pembangunan ekonomi masyarakat. ''Kami tengah melakukan pembicaraan dengan pihak Bank Mandiri untuk menyiapkan dana bergulir bagi masyarakat,'' ujarnya sambil menegaskan KKB juga akan melakukan kerja sama melalui program penyertaan modal di perusahaan besar.
Sementara itu Kadis Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah Made Rasma dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kasubdin Simpan Pinjam I Gst. Ketut Maruta menilai selama ini kinerja dan manajemen KKB telah berjalan mantap. KKB memiliki potensi dan kekuatan besar dalam rangka ikut serta menggerakkan perekonomian Bali. Namun hal itu sekali lagi sangat tergantung dari partisipasi aktif anggotanya dalam membesarkan KKB. ''Pemerintah memuji dan berterima kasih kepada KKB dalam upaya pembinaan kepada masyarakat kecil di Bali,'' ujarnya.
Dalam RAT tersebut berbagai masukan diberikan sejumlah anggota dalam upaya mendukung penguatan ekonomi Bali. Usai tanya jawab, semua perwakilan anggota menyatakan menerima pertanggungjawaban pengurus untuk tahun 2007 ini. Sebelum ramah tamah juga dilakukan pengundian door prize untuk 25 item bingkisan. (ded)
Dari Seminar dan Temu Bisnis KKB Bank dan UMKM belum Nyambung
Denpasar (Bisnis Bali) - Hingga saat ini, antara pihak perbankan dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) masih belum nyambung.

Sebagian pelaku UMKM menilai bank enggan menyalurkan kredit kepada pelaku UMKM, prosedur kredit sangat rumit dan berbelit-belit serta sejumlah pandangan negatif lainnya.

Di sisi lain, bank mengaku sangat sulit mendapatkan debitur (pelaku UMKM) yang memenuhi kriteria bank dan ketentuan-ketentuan yang ada.
Demikian terungkap dalam “Seminar dan Temu Bisnis “ yang digelar Koperasi Krama Bali (KKB), Sabtu (30/10) lalu.
Seminar dibuka langsung Pimpinan KMB Satria Naradha dengan menampilkan pembicara Pemimpin Bank Indonesia Denpasar Jeffrey Kairupan dan Manager Marketing Bank BRI Gajahmada Denpasar Anditya Mahendra. Peserta seminar dan temu bisnis adalah anggota KKB dari seluruh Bali .
Pemimpin Bank Indonesia Denpasar Jeffrey Kairupan menilai, kendala yang ada antara perbankan dan pelaku UMKM bukan hanya terjadi di Bali namun di seluruh Indonesia . Hal ini terjadi akibat komunikasi dan koordinasi antara keduanya kurang optimal. Persoalan ini akan terpecahkan bila kedua belah pihak sering duduk bersama mencari akar masalah sebenarnya.

“Kalangan pelaku UMKM harus aktif mencari informasi tentang produk-produk bank, berusaha memenuhi ketentuan yang ada. Sementara petugas bank harus lebih aktif turun ke lapangan menggali potensi ekonomi yang ada termasuk di sektor UMKM. Jangan hanya menunggu di belakang meja,” jelasnya seraya mengungkapkan ada ratusan produk bank yang diperuntukkan bagi pelaku UMKM.
Dari sisi potensi, jelas Jeffrey UMKM di Bali ini sangat bagus. Jumlah UMKM di Bali tahun lalu mencapai 337.259 unit usaha atau 99 persen dari total unit usaha di Bali . Jumlah UMKM terbanyak terdapat di Kabupaten Gianyar yang mengambil porsi sekitar 34,56 persen dari total UMKM di Bali. Sebagian besar pelaku UMKM di daerah ini bergerak di sektor perdagangan.
Sejauh ini peran perbankan dalam menggerakkan sektor UMKM sudah cukup baik. Hingga triwulan III tahun ini kredit untuk sektor UMKM mencapai Rp 18,750 trilyun atau sekitar 83,06 persen dari total kredit perbankan Bali yang menncapai Rp 22,574 trilyun. Sementara angka kredit macet di sektor ini sekitar 2,58 persen.
Terkait dengan penyaluran KUR di Bali, mantan PBI Manado ini menjelaskan, memang belum sesuai harapan. Dari Rp 550 milyar plafon yang disediakan untuk daerah ini, yang tersalur hanya Rp 218 milyar atau hanya 39,69 persen dari target yang ditetapkan. Hal ini terjadi karena bank menerapkan aturan yang ketat dalam program ini termasuk meminta agunan tambahan untuk meng- cover 30 persen kredit yang tidak dijamin oleh pemerintah melalui Askrindo. Kendala lainnya meliputi terbatasnya kemampuan UMKM dalam membuat laporan keuangan, lemahnya kemampuan account officer bank dalam menganalisis perputaran dan potensi usaha UMKM.
Manager Marketing BRI Gajahmada Anditya Mahendra menjelaskan, KUR adalah kredit modal kerja (KMK) dan atau kredit investasi (KI) dengan plafon kredit sampai Rp 500 juta yang diberikan kepada pelaku usaha mikro, kecil dan koperasi yang memiliki usaha produktif yang mendapat penjaminan dari perusahaan penjamin. Jangka waktu KMK ada maksimal 3 tahun dan KI maksimal 5 tahun. Selain BRI, bank lain yang ditunjuk sebagai penyalur KUR adalah Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, BTN, BNI dan 13 BPD di seluruh Indonesia.
Pimpinan KMB Satria Naradha mengharapkan agar kalangan perbankan dan lembaga keuangan lainnya membuka akses seluas-luasnya bagi pelaku UMKM khususnya yang ada di pelosok-pelosok Bali sehingga bisa memanfaatkan pendanaan atau kredit yang ada. Sejauh ini jumlah UMKM yang mampu menembus sumber-sumber pendanaan di perbankan masih belum begitu banyak.

“Ini mungkin karena proses kreditnya yang masih rumit atau bisa juga jumlah wirausahanya yang masih terbatas,” ujarnya seraya berharap ke depan di Bali jumlah wirausahanya bisa mencapai 10 persen dari total jumlah penduduk. *bia 

Rp 11 T Dana Perbankan di Bali masih ”Nganggur”
Denpasar (BisnisBali) - Koperasi Krama Bali (KKB) menyelenggarakan Temu Usaha dan Bisnis di Gedung PWI, Sabtu (20/9) lalu.

Acara tersebut menampilkan sejumlah pembicara dari KKB dan Bank Mandiri.

Temu bisnis yang dihadiri pebisnis dan mahasiswa tersebut dibuka langsung Ketua KKB Satria Naradha.

"Ada sekitar Rp 11 trilyun dana perbankan di Bali masih mengendap di bank," ujar Satria Naradha. Dikatakan dana masyarakat yang diserap perbankan di Bali saat ini mencapai Rp 25,9 trilyun.

Kredit yang disalurkan perbankan baru sekitar Rp 14,8 trilyun. Ini artinya intermediasi perbankan masih rendah, loan to deposit ratio (LDR) perbankan saat ini hanya sekitar 57 persen dengan total aset perbankan di Bali mencapai lebih dari Rp 30 trilyun.

Salah satu faktor kecilnya penyerapan dana perbankan ini akibat kemampuan dan akses UMKM sangat kurang. Menurutnya, seminar temu bisnis seperti ini sangat penting dan positif agar UMKM bisa menyusun proposal kredit. Selama ini banyak usaha kecil yang mengalami kesulitan untuk mendapat dana perbankan karena tidak bisa menyusun proposal kredit.

"Kita harapkan pengusaha bisa membuat proposal kredit untuk diajukan ke perbankan," ujarnya. IB Teddy Prianthara pembicara dalam seminar tersebut memaparkan pentingnya proposal untuk mendapatkan kredit perbankan.

"Tanpa proposal tidak mungkin bank mau memberikan kredit kepada sektor usaha," ungkapnya. Menurutnya, sebagian besar pengusaha kecil kesulitan untuk menyusun proposal karena keterbatasan kemampuan SDM.

Pria yang juga sebagai konsultan bisnis di sejumlah perusahaan besar tersebut menyatakan, UMKM di Bali sebagian besar tidak memiliki manajemen yang bagus. Mereka tidak memiliki pembukuan sebagai pelaporan. "Ketika mau menyusun proposal, mereka tidak bisa memberikan laporan pembukuan," imbuhnya.

Dijelaskan, ada 5 unsur dalam penyusunan sebuah proposal kredit yang dijadikan pertimbangan oleh pihak perbankan yang disebut dengan 5C yakni character, capacity, capital, colateral dan condition. "Ini merupakan pertimbangan penting yang harus diperhatikan," imbuhnya.

Hal yang tidak kalah penting yang harus dilakukan oleh UMKM dalam menyusul proposal adalah kejujuran. Dalam penyusunan proposal, kita harus jujur, terutama dalam penggunaan dana yang diberikan oleh bank.

"Jika itu untuk usaha, gunakan dana tersebut untuk usaha jangan untuk yang lain. Ini adalah salah satu etika bisnis yang mendasari penyusunan proposal," tegasnya.

Senior Manager Bank Mandiri di Small Busines Distric Centre Denpasar Arif Hendarno menyatakan, pihak perbankan memberikan ruang yang cukup luas kepada sektor usaha kecil.

Dia menyatakan syarat kredit untuk UMKM tidak serumit perusahaan besar. "Asal ada surat keterangan dari kepala desa," imbuhnya. Namun ia mengakui pihaknya sangat hati-hati dalam memberikan kredit. *wid
Tumbuhkan Jiwa Wirausaha lewat Kursus Aneka Kue
Denpasar (BisnisBali) – Koperasi Krama Bali (KKB), Sabtu (31/1) lalu, kembali menggelar kursus singkat membuat aneka kue basah dan kering.

Kursus singkat yang diadakan di wantilan Gedung Pers K. Nadha tersebut, diharapkan dapat memotivasi masyarakat Bali untuk memiliki jiwa wirausaha.

Kursus singkat di Denpasar kali ini mengajarkan membuat kue karamel, bolu, nastar dan kue mangkok ketela ungu.

Sebelumnya KKB telah melakukan pelatihan manajemen usaha kecil dan sektor informal dengan tema yang sama di Negara, Klungkung, Bangli dan Kintamani.

Manajer KKB Denpasar, I Gede Dana Pramitha, S.E. mengatakan, melalui kursus singkat membuat kue basah dan kering diharapkan makin banyak krama Bali yang bermunculan sebagai wirausaha-wirausaha sejati dan mandiri.

Bentuk wirausaha masyarakat secara mandiri ini, secara tidak langsung dapat menumbuhkan perekonomian Bali ke depannya.

“Terutama dalam usaha pembuatan kue basah dan kering. Sebab, margin keuntungan yang bisa diperoleh dari bisnis kue sangat besar dan menjanjikan yaitu, berkisar 50-70 persen,” ucapnya.

Menjanjikannya bisnis kue tradisional tersebut, menurut Gede Dana, bisa dilihat dari maraknya usaha sejenis bermunculan di masyarakat. Animo masyarakat mengkonsumsi aneka jenis kue tradisional ini pun bisa dikatakan tinggi tiap harinya.

Khususnya, untuk memenuhi permintaan masyarakat pada momen upacara keagamaan dan adat di Bali yang tergolong tinggi.

Bercermin pada hal tersebut, tambahnya, bagi krama Bali yang serius menekui usaha pembuatan kue basah dan kering ini, selain bisa membuka kesempatan kerja, mereka bisa pula mendapatkan income yang relatif besar serta bisa menjadikannya usaha ini sebagai pekerjaan pokok.

Hal serupa dikatakan Yoneta, instruktur kursus yang telah sukses berbisnis jasa boga di Klungkung. Menurutnya, penganan kue tradisional yang diolah dengan serius dan mendapat sentuhan manajemen yang baik, dapat dipastikan menjadi bisnis yang potensial.

Tidak terkecuali bisnis kue basah dan kering yang merupakan usaha menjanjikan bagi kalangan usaha kecil dan menengah (UKM).

Ia menambahkan, apabila kuliner ini dikembangkan berarti juga kebangkitan usaha mikro. Selain bisa memperkaya menu kue di keluarga, pihaknya yakin kemampuan ini juga bisa menambah penghasilan keluarga apabila mau mengembangkan.

“Saya sangat senang, ternyata krama Bali begitu antusias mengikuti kursus singkat yang diselenggarakan KKB,” paparnya. *dik

Pra-RAT KKB Denpasar ...
Kesolidan Tim, Modal Kemajuan KKB
Denpasar (Bali Post) -
Rencana kerja tahun 2007 Koperasi Krama Bali (KKB) Unit Pelayanan Kerja Denpasar telah berjalan dengan baik. Meskipun kondisi keuangan konsolidasi belum menghasilkan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang maksimal. Beberapa faktor diakui masih menjadi kendala dalam mencapai kinerja terbaik.
Demikian yang terungkap dalam Pra-Rapat Anggota Tahunan Koperasi Krama Bali, Sabtu (15/3) kemarin bertempat di Gedung PWI Denpasar.
Manajer KSP KKB Denpasar Gede Dana Pramitha dalam laporannya menyebutkan beberapa unit usaha menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Unit Simpan Pinjam yang berlokasi di Jalan Teuku Umar, telah meningkatkan sumber permodalan sebesar 0,9 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam hubungannya dengan perkembangan ke depan yakni selama ini para anggota masih kurang tertib dalam melakukan kewajiban membayar simpanan wajib di koperasi. Beberapa anggota juga kurang disiplin dalam hal pembayaran angsuran kredit.
Terkait permasalahan tersebut, pengurus KKB telah mengambil sejumlah upaya. Misalnya dengan melakukan pendekatan kontinu dengan anggota ataupun melakukan revitalisasi dan penyegaran kepada anggota. ''Jika kita bisa bekerja sama dengan baik, koperasi yang menjadi milik kita bersama ini juga pasti akan berjalan dengan maksimal dan tentunya usaha koperasi bisa dimanfaatkan pula dengan maksimal oleh anggota,'' katanya.
Ketua Badan Pengawas KKB Bali Ida Bagus Teddy Prianthara, S.E., Ak., M.Si., mengatakan dalam tahun ketiganya, KKB Unit Pelayanan Denpasar diibaratkan layaknya seorang balita. Dalam usia yang masih sangat muda tersebut, dianggap wajar jika kinerja masing-masing unit usaha belum maksimal.
Dia juga mengingatkan pada usia ketiga inilah KKB sudah harus bisa memikirkan bagaimana meraih laba. Maka dari itu dia meminta solidnya tim baik dari pengurus sendiri demikian pula dengan anggota mesti dijaga. Termasuk pula semangat untuk memajukan KKB. Sebab dua hal ini menjadi poin penting dalam kemajuan KKB ke depan. (ded)

3 komentar: